POSTINGAN 10
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatih. Sesuai janji saya, saya akan memberikan postingan selanjutnya
.....Kekesalan karena cita citaku ditentang amak ini berbenturan dengan rasa tidak tega melawan kehendak beliau. Kasih sayang amak tak terperikan kepadakku dan adik adik. Walau sibuk mengoreksi tugas kelasnya, beliau selalu menyediakan waktu membacakan buku, mendengar celoteh kami dan menemani kami belajar.
Belum pernah sebelumnya aku berbantah bantah melawan keinginan amak sehebat ini. Selama ini aku anak penurut. Surga di bawah telapak kaki ibu, begitu kata guru madrasah mengingatkan keutamaan Ibu. Tapi ide masuk mafrasah meremas hatiku.
Di tengah gelap, aku terus bertanya tanya kenapa orang tua harus mengatur atur anak anak. Dimana kemerdekaan anak yang baru belajar punya cita cita? Kenapa masa depan harus diatur orang tua? Aku bertekad melawan keinginan amak dengan diam dan mogok didalam kamar gelap. Keluar hanya untuk buang air dan mengambil sepiring nasi untuk diamakan dikamar lagi.
Sudah tiga hari aku mogok bicara dan memeram diri. Semua ketukan pintu aku balas dengan ketukan pendek, ''sedang tidur''. Dalam hati aku berharap amak berubah pikiran melihat kondisi anak bujangnya yang terus mengurung diri ini. Amak memang berusaha menjinakkan perasaanku dengan mrngajak bicara dari balik pintu. Suasananya cemas dan sedih. Tapi tiga hari berlalu, tidak ada tanda tanda keinginan keras amak goyah. Tidak ada tawaran yang berbeda tentang sekolah, yang ada hanya himbauan untuk tidak mengunci diri.
.....Kekesalan karena cita citaku ditentang amak ini berbenturan dengan rasa tidak tega melawan kehendak beliau. Kasih sayang amak tak terperikan kepadakku dan adik adik. Walau sibuk mengoreksi tugas kelasnya, beliau selalu menyediakan waktu membacakan buku, mendengar celoteh kami dan menemani kami belajar.
Belum pernah sebelumnya aku berbantah bantah melawan keinginan amak sehebat ini. Selama ini aku anak penurut. Surga di bawah telapak kaki ibu, begitu kata guru madrasah mengingatkan keutamaan Ibu. Tapi ide masuk mafrasah meremas hatiku.
Di tengah gelap, aku terus bertanya tanya kenapa orang tua harus mengatur atur anak anak. Dimana kemerdekaan anak yang baru belajar punya cita cita? Kenapa masa depan harus diatur orang tua? Aku bertekad melawan keinginan amak dengan diam dan mogok didalam kamar gelap. Keluar hanya untuk buang air dan mengambil sepiring nasi untuk diamakan dikamar lagi.
Sudah tiga hari aku mogok bicara dan memeram diri. Semua ketukan pintu aku balas dengan ketukan pendek, ''sedang tidur''. Dalam hati aku berharap amak berubah pikiran melihat kondisi anak bujangnya yang terus mengurung diri ini. Amak memang berusaha menjinakkan perasaanku dengan mrngajak bicara dari balik pintu. Suasananya cemas dan sedih. Tapi tiga hari berlalu, tidak ada tanda tanda keinginan keras amak goyah. Tidak ada tawaran yang berbeda tentang sekolah, yang ada hanya himbauan untuk tidak mengunci diri.
Komentar
Posting Komentar